Di antara produk yang dikenalkan pagi itu: tabungan, deposito, layanan digital banking, hingga kredit khusus untuk gereja dan pelayan jemaat. Ada juga produk seperti Kredit SPAM dan Greenhouse—dua skema pembiayaan yang dirancang untuk menopang kebutuhan air bersih dan pertanian berbasis teknologi sederhana.

“Tidak semua jemaat harus menunggu datang ke bank. Kali ini, biar kami yang datang ke mereka,” kata Yusuf, tersenyum, sambil menunjukkan brosur layanan mobile banking Bank NTT. Di layar, tampak simulasi aplikasi yang mudah diakses, bahkan oleh warga lansia.

Diskusi berlangsung hidup. Beberapa peserta mengacungkan tangan, menanyakan skema cicilan, prosedur jaminan, hingga kemungkinan pengajuan kredit untuk kegiatan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Beberapa lainnya langsung menyatakan niat membuka rekening.

Bagi Bank NTT, kegiatan ini bukan satu-satunya. Di berbagai kabupaten lain seperti Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, kantor cabang di Waibakul, Waikabubak, dan Waitabula telah lebih dulu menjejakkan kaki di lingkungan gereja dan komunitas lokal. Semua mengusung semangat yang sama: “Ayo Bersinergi Membangun NTT.”