“Kami tidak bicara politik, tapi semua yang kami bicarakan punya dampak politik,” ujar seorang pejabat yang mendampingi Gubernur Melki dalam pertemuan itu.

Di ruang-ruang kekuasaan Jakarta, pertemuan Gubernur Melki, Bahlil, dan Airlangga lebih dari sekadar koordinasi teknokratis. Ini adalah penguatan simpul di antara elite Golkar lintas generasi. Melki sebagai gubernur muda dan Wakil Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil sebagai nahkoda baru partai kuning, dan Airlangga sebagai jenderal tua yang masih berpengaruh di meja ekonomi kabinet.

Sinyal politik dari pertemuan ini terbaca jelas. Melki disebut-sebut sedang membangun poros dukungan pusat untuk menjadikan NTT sebagai etalase keberhasilan hilirisasi di Indonesia Timur. Di sisi lain, dia mengonsolidasikan peran Golkar sebagai partai penggerak pembangunan di daerah, bukan sekadar mesin elektoral.

Pembangunan ekonomi di NTT memang butuh suntikan dari pusat. Tapi bagi Gubernur Melki, yang sejak awal menekankan pendekatan potensi lokal dan penguatan kapasitas desa, dukungan dua menteri itu membuka pintu lebar bagi investasi energi, pariwisata, dan industri pengolahan. Targetnya, produk lokal NTT bisa menembus pasar nasional bahkan ekspor, dari tenun ikat Flores hingga garam dan rumput laut Sabu, Sumba dan Timor.