“Kita harus realistis, bahwa NTT sebagai salah satu provinsi  termiskin ketiga di Indonesia sangat memerlukan uluran tangan pemerintah pusat. Kita tidak bisa menafikan peran pusat dalam pendanaan pendidikan di Nusa Tenggara Timur,” terangnya.

Ia menegaskan, peran Gubernur untuk mendatangkan dana pembangunan dari pusat itu sangat penting. “Selain ada regulasi kewajiban pemerintah pusat untuk pembangunan di daerah. Lobi seorang Gubernur itu penting,” ungkap Dr. Marsel Robot. 

Ia menambahkan, bagaimana membangun relasi dengan Presiden itu juga menjadi salah satu bagian strategis kemajuan pembangunan di daerah.

Menurutnya tugas daerah yang paling penting ialah; pertama, harus menjamin dan mengawasi penggunaan keuangan sektor pendidikan secara efisen dan tepat sasran.

Kedua, diperlukan regulasi tingkat daerah untuk mendorong keamjuan pendidikan, terutama bagaimana ekosistem literasi dibangun di lembaga satuan pendidikan. Ketiga, diperlukan sekolah-sekolah satelit di pinggir kota atau yang kualitas sama dengan pendidikan di kota.

“Model ini penting untuk pemerataan kualitas, sekaligus menghalangi urbanisasi siswa dari desa ke kota. Jika sekolah di kota melampaui kuota, maka akan terjadi penururan mutu secara signifikan. Keempat, diperlukan chasing atau pelatihan yang regular untukĀ  menyegarkan model dan metode pembajaran yang ramah dengan kemajuan zaman,” ungkapnya.

Untuk diketahui, dalam Pilgub NTT kali ini, ada tiga paslon Cagub Cawagub yang akan bertarung. Cagub Cawagub 01 Ansy Lema dan Jane Natalia diusung PDI-P, Hanura, Partai Buruh dan PBB. Cagub dan Cawagub 02 Melki Laka Lena dan Johni Asadoma diusung 11 partai koalisi yang pada Pilpres 2024 lalu memenangkan Prabowo-Gibran. Sedangkan paslon cagub cawagub 03 Simon Kamlasi dan Andre Garu diusung PKB, PKS dan NasDem. (hj/tim)