Melki Laka Lena yang hadri malam itu bersama sang isteri Asty Laka Lena tampak sangat terharuh dengan momentum pertemuan tersebut. Melki dan Asty disambut hangat dengan seremonial adat dan tarian.
“Saya sangat terharuh dengan kisah yang disampaikan Pak Umbu Hia, bahkan ketika mama saya datang dan diwarnai dengan tangisan bahagia,” katanya
Disebutkan Melki Laka Lena, kisah tentang Payeti ini sudah diketahuinya pada tahun 2013 silam ketika ia maju menjadi calon Wakil Gubernur berpasangan dengan Ibrahim Agustinus Medah. “Ketika itu kami berkampanye di Kelurahan Wangga dan kebetulan mama saya punya bapa itu namanya Petrus Wangga. Saat itu dipesankan oleh om saya atau saudara dari mama saya bahwa ketika kampanye di Sumba Timur harus cari keluarga kita di Payeti. Beliau menunjukan berbagai macam perhiasan yang merupakan barang antik yang dibawa dari Sumba Timur, bertanda bahwa moyang kita saat itu datang dari Sumba Timur, dan ada kisah yang harus dicari tahu,” ujar Melki Laka Lena.
Ia mengaku salah karena kesibukannya di dunia politik sehingga agenda untuk melakukan pertemuan bersama keluarga besar Payeti terus tertunda. “Gara-gara sibuk dengan politik akhirnya agenda untuk bertemu tidak bisa terlaksana. Saya minta maaf, dan kesalahan terebsar ada pada saya,” ujarnya. Dan kisah tentang Nenek Rambu Hara Ana Awa ini pernah diceritrakan oleh mama saya,” ujarnya.





Tinggalkan Balasan