“Itu logika sederhana dalam politik. Semua pemimpin partai yang akhirnya berdamai dan berkoalisi dengan Prabowo bukan berarti akan sejalan dengan Prabowo selamanya hingga Pilpres mendatang. Karena itu, Prabowo akan lebih memikirkan memastikan dukungan full kepada para calon gubernur di daerah yang sejalan dengan dirinya juga partainya,” kata putra Lamalera, Lembata ini.
Prabowo dan Gerindra Satu
Dia menandaskan lagi, “Dan masyarakat juga memahami bahwa dukungan presiden terpilih dalam konteks Pilgub memang sangat penting. Pengaruhnya secara elektoral tentu ada. Di mana sebagian besar publik akan melihat secara cerdas, mana calon yang satu garis dengan Presiden terpilih. Dan mana yang tidak. Artinya efek itu akan kuat pada semua pemilih yang melek politik dan paham bagaimana dukungan anggaran pusat ke provinsi NTT yang masih sangat dominan. Yaitu sekitar 80 persen anggaran pembangunan di NTT datang dari pemerintah pusat”.
Artinya, terang dia, anggaran pusat itu akan dikuasai oleh partai-partai KIM selama lima tahun ke depan. Sehingga butuh gubernur yang dekat dengan Presiden juga para menteri, kepala lembaga hingga para anggota DPR RI di Senayan. “Mereka ini menjadi kunci. Dan fakta saat ini adalah yang menjadi Calon dari KIM di NTT adalah Melki Laka Lena dan Jhoni Asadoma. Secara politis mereka punya posisi yang lebih strategis untuk mendapat dukungan Presiden Prabowo dan para menteri hingga kepala Lembaga dan anggota DPR RI,” jelas Mikhael Bataona.





Tinggalkan Balasan