Sementara itu Ketua EBF Monica Tanuhandaru menjelaskan Yayasan Bambu Lestari adalah sebuah organisasi nirlaba Indonesia yang didirikan oleh aktivis lingkungan Linda Garland pada tahun 1993.

Yayasan Bambu Lestari bertujuan melindungi hutan tropis dengan cara
mempromosikan dan mengangkat beragam kegiatan konservasi dan peluang
pengembangan melalui bambu.

Yayasan Bambu Lestari jelas Tanuhandaru, berbasis di Bali dan berafiliasi dengan International Bamboo Foundation (IBF) di Amerika Serikat dan Belanda, dua organisasi yang juga berfokus pada penyebaran berita tentang bambu.

Selain itu Yayasan Bambu Lestari berfokus pada pengembangan internasional, melalui konsultasi dan pendidikan, penelitian konservasi, proyek-proyek wanatani, reklamasi daerah aliran sungai, pengembangan perkebunan, dan penyusunan kebijakan.

“Sampai saat ini, semua anggota Yayasan Bambu Lestari dan IBF telah menggunakan waktu dan sumber daya mereka untuk mengangkat bambu sebagai solusi lingkungan,” paparnya.

Tanuhandaru menyebut, Yayasan Bambu Lestari terdapat 10 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berpotensi untuk pengembangan agroekologi bambu. Dimana total area berpotensi untuk pengembangan agroekologi di NTT itu luasnya mencapai 4.000 hektare.

“Agroekologi adalah bagian dari pertanian berkelanjutan yang menggambarkan hubungan alam, ilmu sosial, ekologi, masyarakat, ekonomi, dan lingkungan yang sehat. Agroekologi diterapkan berdasarkan pada pengetahuan lokal dan pengalaman dalam pemenuhan kebutuhan pangan local,” jelasnya.

Dia mengatakan bahwa 10 kabupaten yang berpotensi itu tersebar di pulau Flores, Pulau Alor, Pulau Sumba dan pulau Timor. Daerah terbanyak berasal dari Pulau Flores terdiri dari Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Ngada.

NTT sendiri juga dinilai pas untuk pengembangan agroekologi karena sejak tahun 2020 lalu sampai sekarang YBL bersama dengan Pemerintah Provinsi dan kabupaten telah mengembangkan agroekologi bamboo. (Yhono Hande)