“Ada komitmen buy back. Bisa secara bertahap dibeli kembali oleh pemegang saham seri A Bank NTT. Tapi KUB ini untuk menyangga risiko. Bukan berarti rekening rakyat NTT kurang lebih Rp10 Triliun tadi menjadi milik Bank DKI. Cara berpikir ini salah. Bank NTT tetap milik rakyat NTT,” tegasnya.
Ia menambahkan, kerja sama KUB bukan berarti Bank DKI ingin mencaplok Bank NTT.
“Bank DKI bukan ingin mencaplok, tetapi sudah ada negosiasi antar direksi. Saya apresiasi negosiasi itu. Bisa juga tahun depan kita take over atau buy back kembali saham Bank DKI secara perlahan. Itu sangat bisa,” pungkasnya. (*)
Halaman



Tinggalkan Balasan