Melawan para Tuan tidaklah gampang sebab kekuasaan mereka sangat besar.

Kuasa Tuan

Semenjak orde baru tumbang, para Tuan kehilangan kekuasaannya. Untuk mendapatkan kembali kekuasaan itu, maka mereka menyesuaikan diri dengan arus gelombang demokratisasi lokal. Para Tuan yang beroperasi tingkat nasional menyadari betul bahwa tanpa dukungan Tuan tingkat lokal, mereka akan kehilangan kendali (Max Lane, 2014). Hanya dengan langkah itu, kelompok predator ini mampu mendapatkan kekuasaan.

Mengapa mereka mampu berkuasa? Ini pertanyaan klasik yang sering muncul. Sebabnya tentu beragam. Bisa jadi “modal ekonomi” Tuan-tuan bisa menjelaskan soal ini. Pierre Bourdieu bukan kebetulan bilang bahwa kapital ekonomi merupakan modal hidup manusia yang mudah dialihkan ke modal-modal yang lainnya, misalnya modal sosial, budaya dan simbolik (Haryatmoko, 2023). Soal ini contoh sederhana berikut bisa membantu. Seorang Anton mempunyai modal ekonomi (uang) yang banyak. Uang ini menjadi alat yang dipakai untuk mendapatkan modal simbolik seperti kepala daerah. Jabatan sebagai Gubernur, Bupati atau Walikota didapat dengan mudah karena mempunyai modal ekonomi. Lalu apa yang salah dengan semua ini? Memperoleh modal ekonomi yang banyak tentu tak salah sebab itu hak setiap orang. Saya dan Anda tak bisa melarang siapapun untuk menjadi miliarder. Saat yang sama, siapapun tak bisa melarang orang  menjadi miskin. Dari sini, kita kembali menengok sejarah. Ia memberikan pelajaran bahwa pembagian kekuasaan berdasarkan kekuasaan material sangat bertahan lama bahkan seusia rasi manusia (Jefrey A.Winters, 2014). Meski begitu, para Tuan menjadi problem dalam demokrasi justru karena mereka beroperasi dengan logika homo economicus sepertidisinggungdi awal tulisan ini. Bila ini dibilang cacat, maka ini adalah cacat bawaannya. Karenanya, jangan heran apalagi marah lantaran mereka hanya sibuk mencari keuntungan diri selama menjadi penguasa. Mereka tak pedui dengan kemiskinan ekstrem dan pengangguran yang kian meningkat. Para Tuan tak pikir dengan banyak anak di daerah yang menderita kurang gizi. Mereka pun tak gubris dengan urusan jurang antara kelompok miskin dan kaya semakin melebar. Para Tuan hanya membangun siasat memperkaya diri sekalipun hasil korupsi. Kita tak boleh lupa dengan kisah memalukan Tuan-tuan di NTT. Begitu banyak para Tuan terpenjara karena korupsi uang rakyat. Lantas, apa pemilukada tahun 2024 para Tuan akan berkuasa? Jawabannya bisa ya. Bisa juga tidak. Rakyatlah yang yang berdaulat memilih. ***