Meskipun anak-anaknya lahir dengan kondisi normal dan sehat, keberadaan dukun beranak tetap menjadi solusi di saat keadaan mendesak.
“Dari 9 anak, hanya 1 orang anak yang lahir di rumah sakit,” ungkap Meri Foni yang mengaku, saat melahirkan di rumah ia dibantu oleh salah satu kerabat dekatnya.
Selain itu, kata Meri, bantuan dari pemerintah desa dan puskesmas pun sangat minim. Tidak adanya dukungan finansial maupun kesehatan seperti susu dan biskuit untuk ibu hamil itu membuatnya menjadi salah satu keluarga yang berisiko melahirkan anak Stunting.
“Dari pemerintah desa tidak ada bantuan apapun. Puskesmas sendiri juga tidak ada bantuan seperti susu dan biskuit pun tidak ada. Itu tidak pernah,” jelasnya.
“Nanti setelah lahiran baru pihak Puskesmas telepon untuk ke melakukan pemeriksaan kesehatan bayi dan ibu,” jelas Meri menambahkan.
Meri Foni menambahkan, ia bersama suaminya merupakan petani yang mencari nafkah dari hasil pertanian seperti pisang, ubi, jagung, dan sayur-sayuran.
Kondisi ekonominya pun jauh dari kata layak. Ia mengaku tidak memiliki jamban. Dengan kondisinya ini, Meri berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih, agar ke depan bantuan yang diberikan harus tepat sasaran khusus untuk keluarganya.



Tinggalkan Balasan