Ruteng, KN – Berawal dari rasa perihatin melihat anak-anak usia dini yang lahir dari keluarga tak mampu dan anak yatim piatu yang putus sekolah, Bripka Syamsuddin (40), polisi yang bertugas di Polres Manggarai tergerak mendirikan Yayasan Pendidikan Islam FII Sabilillah Ruteng.
Yayasan ini terletak di Kumba – Ruteng tepatnya samping Bandara Frans Sales Lega, Kelurahan Satar Tacik, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Yayasan yang ia bangun tersebut telah berdiri sejak tahun 2019. Saat ini Yayasan ini telah bergerak cukup luas, yakni bidang pendidikan sekolah Taman Kanak-kanak (TK) dan SD MIS (Madrassah Ibtidaiyah Swasta Swasta).
Sekolah TK Deen Assalam beralamat di Cunca Lawar, Kelurahan Satar Tacik, sekolah ini sudah berjalan 6 tahun, namun untuk gedung TK ini masih berstatus kontrak dengan nilai Rp2,5 juta per tahun dengan jumlah guru 4 orang.
MIS sendiri memperoleh izin dari Kementerian Agama mengeluarkan Izin operasional pada Juli 2023 lalu dengan nomor NSM 111253100008 dan NPSN 70044225.
Posisi gedung MIS sendiri terletak di Kumba, Kelurahan Satar Tacik, fasilitas pun lengkap yakni perangkat komputer dan CCTV disediakan pada setiap ruangan yang ada.
Tanah ini pun milik pribadi dari Bripka Syamsuddin hasil kredit dari salah satu bank di Manggarai.
Saat ini sekolah MIS pun tengah berlangsung kegiatan belajar dengan jumlah siswanya 20 orang untuk kelas I. Sementara untuk guru-gurunya berjumlah 3 orang. Sungguh luar biasa sebab perjuangan mendapatkan terhadap murid ini pun hanya membutuhkan waktu satu hari.
Kepada Koranntt.com, Bripka Syamsuddin ini mengaku sangat tak tega ketika harus mengetahui ada siswa sekolah yang putus sekolah hanya karena kekurangan biaya.
Bripka Syamsuddin ini memiliki keinginan luhur. Sebab sudah sejak dulu ia bercita-cita bisa membangun sekolah gratis bagi anak-anak tidak mampu.
Sebagai pendatang, Bripka Syamsuddin mengisahkan bahwa, Kota Ruteng atau Manggarai sendiri merupakan salah satu kota yang sudah maju dan berkembang dalam bidang pendidikan.
Namun ternyata masih memiliki banyak permasalahan di bidang pendidikan khususnya bagi anak-anak dari orang tua yang pendatang. Selain itu kata dia, sekolah TK Deen Assalam Ruteng dibuka karena jumlah sekolah madrasah di Ruteng sangat terbatas.
Kemudian, berbagai himpitan kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor utama banyaknya anak putus sekolah.
Apalagi, setelah dia merefleksikan dirinya jika dia juga merupakan anak yang lahir dari keluarga yang tak mampu. Sehingga fenomena inilah yang membuat hati Briypka Syamsuddin menggugah untuk prihatin.
“Motivasi awal pembangunan sekolah ini dulu setelah saya merefleksi bahwa saya ini lahir dari keluarga tidak berada bukan dari keluarga berada tetapi dari keluarga tidak berada ini saya berinisiatif bahwa anak-anak kami harus bisa sekolah seperti anak-anak lain,” ujar Bripka Syamsuddin.
Dari hal itu, guna membiayai sekolah tersebut Bripka Syamsuddin bahkan rela mengajukan kredit berkali-kali di Bank. Bahkan saat ini ia pun hanya menerima gaji bersih 200.000 dari profesinya sebagai polisi. Sebab separuhnya diberikan untuk kebutuhan sekolah termasuk gaji guru.
“Untuk biaya ya saya harus kredit di Bank berkali-kali bahkan terakhir itu nyaris jual rumah,” ungkap Bripka Syamsuddin.
Meski merasa sulit dalam pembiayaan, Bripka Syamsuddin bersama istri mengaku bahagia setelah melihat anak-anak yang tamat bisa mengikuti ke jenjang pendidikan SD dengan memiliki kemampuan bisa membaca dan menulis.
“Jujur dibalik banyaknya kesulitan dalam membangun sekolah ini saya bersama istri saya merasa bahagia setelah melihat anak-anak yang tamat dari sini bisa mengikuti pendidikan SD dengan kemampuan membaca dan menulis,” tuturnya.
Bripka Syamsuddin juga mengakui, jika awal bangunnya lembaga tersebut khususnya pada hal yang berkaitan dengan administrasi atau biaya operasional sekolah termasuk honor guru ternyata ia menyisihkan uang gajinya.
Dari hal itu, guna membiayai sekolah tersebut Bripka Syamsuddin bahkan rela mengajukan kredit berkali-kali di Bank.
“Untuk biaya ya saya harus kredit di Bank berkali-kali bahkan terakhir itu nyaris jual rumah,” ungkap Bripka Syamsuddin.
Dia juga menerangkan sekolah Deen Assalam Ruteng itu telah menoreh status akreditasi B dan sudah pernah mengikuti perlombaan di tingkat nasional.
“Meski dari sisi usia Sekolah ini baru berapa tahun namun kita sudah berakreditasi B dan pernah mengikuti lomba di tingkat Nasional dan kita dapat peringkat 1 harapan,” tukasnya. (*)