Basmi Stunting, Pj Wali Kota Minta Lurah dan RT Data Ibu Hamil Agar Diintervensi

Pj. Wali Kota Kupang George M. Hadjoh. (Foto: Istimewa)

Kupang, KN – Penjabat Wali Kota Kupang George M. Hadjoh menegaskan pemerintah Kota Kupang sangat fokus untuk menurunkan angka stunting.

Menurutnya, sejumlah upaya telah dilakukan untuk mencegah dan mengobati anak-anak atau balita yang mengalami stunting.

Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan adalah dengan mengintervensi para ibu hamil, agar mereka bisa melahirkan generasi yang cerdas.

“Saya minta, tolong bapak-bapak RT dan Lurah dicek ibu-ibu hamil siapa saja yang ada di setiap RT supaya bisa diintervensi,” ujar George Hadjoh kepada KORANNTT.COM, usai menghadiri peresmian Hotel Harper Kupang, Sabtu 3 Juni 2023.

Ia mengingatkan para ketua RT dan para Lurah, agar ibu hamil di Kota Kupang diintervensi melalui pemberian makanan tambahan berbahan kelor. Sehingga stunting dapat dicegah sejak dari kandungan. 

“Karena kita bisa desain ibu hamil, untuk bisa melahirkan anak-anak yang tingkat kecerdasannya jenius. Kasi makan Kelor saja,” ungkap George Hadjoh.

Dikatakannya, kelor adalah tanaman ajaib, dan Menteri Kesehatan sudah mendorong, agar Kelor dari NTT dijadikan bahan penanganan stunting di Indonesia.
Pj Wali Kota Kupang mengajak semua pihak baik itu ASN, swasta dan perbankan untuk bekerja sama dan berkolaborasi, guna menangani stunting di Kota Kupang.

“Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Pemerintah membutuhkan gereja, dan semua stakeholders yang ada di Kota Kupang untuk bergerak,” pintanya.

BACA JUGA:  Pemprov Papua Barat Serahkan Bantuan Rp1 Miliar untuk Korban Badai Seroja di NTT

“Satu tahun saja stunting bisa beres, apalagi kita memberikan diri kita secara total untuk kerja stunting, pasti bisa selesai,” tegas George Hadjoh.

Gereja Turun Tangan

Dihubungi terpisah, Ketua Majelis Klasis Kota Kupang Timur, Pdt. Samuel Pandie mengatakan masalah stunting adalah masalah kemanusiaan, karena itu, Gereja tidak bisa membiarkan pemerintah berjalan sendiri.

“Ini ancaman bagi generasi kita dan juga generasi Gereja. Karena data-data yang dimiliki oleh pihak Puskesmas maupun Pemerintah itu, penyumbang 80% stunting itu justru di gereja-gereja GMIT,” ujar Pdt. Samuel Pandie.

Ia menjelaskan, stunting bukan hanya terjadi pada keluarga miskin, tapi juga menyerang anak-anak dari keluarga mampu.

Sehingga pihaknya terus bekerja sama dengan Puskesmas untuk memberikan edukasi dan pemahaman tentang makanan bergizi, yang harus diberikan kepada anak-anak.

“Kita juga menyiapkan dana untuk pemberian makanan tambahan selama 3 bulan. Kita bersyukur kita baru menangani dua minggu, itu sudah ada  angka penurunan dari 518 anak itu ada penurunan 50%,” katanya.

Ia meyakini bahwa stunting tidak akan selesai, tapi selama semua pihak memiliki kepedulian dan perhatian terhadap generasi, maka tindakan sekecil apapun, bisa menolong anak-anak untuk keluar dari masalah stunting. (*)