“Kalau dalam tahun ini terealisasi, maka jumlah kantor akan bertambah menjadi 240,” beber Yusmal.
Direktur Kepatuhan Bank NTT Christofel Adoe mengapresiasi jajaran Bank Aceh Syariah yang secara aset berada jauh di atas Bank NTT, namun masih mempercayakan Bank NTT menjadi tempat berdiskusi terkait langkah-langkah yang ditempuh menjadi Bank Devisa.
Menurut Christofel Adoe, sampai dengan saat ini Bank NTT masih terus berproses untuk menjadi Bank Devisa. Dia mengatakan target Bank NTT menjadi Bank Devisa rencananya pada tahun 2023 ini terus diupayakan agar segera mendapat ijin dari OJK.
“Target kami kalau bisa terealisasi sebagai hadiah ulang tahun pada tanggal 17 Juli mendatang. Proses persiapan telah kami lakukan dan mudah-mudahan pada bulan April ini sudah bisa kami ajukan ijinnya ke OJK,” jelas Christofel.
Sementara Direktur Dana Bank NTT Yohanis Landu Praing mengatakan proses untuk menjadikan Bank NTT menjadi Bank Devisa, pihaknya membagi dalam beberapa tahap yakni progres dan syarat dari Bank Indonesia, kedua rencana perijinan, serta layanan produk dari Bank Indonesia.
“Jadi saat ini kami masih dalam level progres, sehingga ini menjadi tahapan pembelajaran bagi Bank Aceh Syariah dan Bank NTT. Kami saat ini tentu bangga bisa bersinergi dengan Bank Aceh Syariah,” katanya.
Kunjungan kemitraan itu ditandai dengan saling menyerahkan cindera mata antara kedua bank tersebut.
Selanjutnya dilakukan diskusi terkait proses Bank NTT menjadi Bank Devisa lewat materi yang dipaparkan oleh Kepala Divisi Treasury Bank NTT Zet Lamu. (*/KN)







Tinggalkan Balasan