“Yang mana BPD itu bisa siap untuk menghadapi digitalisasi sehingga bisa siap untuk menambah peran, terutama dalam tantangan digitalisasi di Indonesia,” kata Sutjahyo kepada wartawan.

Ia menjelaskan, terdapat 3 poin utama yang dibahas bersama dalam pertemuan 8 BPD tersebut. Pertama, melaksanakan digital bisnis dalam 6 bulan ke depan. Kedua, melakukan efisiensi dari segi operasional dengan penerapan digitalisasi. Ketiga adalah penguatan keamanan siber. Hasil dari kesepakatan, semua BPD sepakat untuk memperkuat posisi BPD di kancah industri finansial Indonesia.

Sementara Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho mengatakan, 8 BPD yang bertemu di Ruteng memiliki core banking yang sama. Mereka berdiskusi bersama vendor, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BSSN dan BSrE untuk menyatukan persepsi, dalam rangka melakukan adaptasi cerdas menyambut digitalisasi dan perkembangan industri perbankan.

“Khususnya dalam memitigasi risiko dan memenuhi regulasi lainnya, dan mampu melihat peluang-peluang potensi bisnis yang ada. Semua itu menjadi bagian dari diskusi kita hari ini,” kata Dirut Alex Riwu Kaho.