Untuk diketahui bahwa dalam penyusunan program ini juga tentu saja memperhatikan berbagai aspek, semua lembaga dan kelompok yang terlibat dalam penyusunan wajib berkolaborasi dalam menindaklanjuti program ini.

Ada pun beberapa program kolaborasi yakni penanaman sorgum dan tanaman hortikultura, program ini diharapkan dapat melibatkan kelompok tani agar perekonomian serta kebutuhan umat akan makanan bergizi dapat terpenuhi.  Ada juga program lain yakni perhatian terhadap ibu dan anak yang kekurangan gizi dengan memberikan makanan tambahan, program ini bekerja sama dengan lembaga kesehatan dan disambut dengan baik oleh pihak terkait.

“Tentu dengan adanya giat kolaborasi bersama gereja dalam penguatan layanan kesehatan Ibu dan Anak, serta Pemberian PMT bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan anak Stunting mempermudah untuk menekan angka kematian ibu dan Anak dan juga menurunkan angka Stunting. Di sisi lain saya memandang kedekatan Gereja dan umatnya sangat tinggi, sehingga penyampaian informasi kesehatan bisa dijalankan,melalui Kotbah/Himbauan saat Misa, juga dikegiatan Pastoral lainnya,”tanggap Bonefasius Ceisman, Kepala Puskesmas Kajong.

Kehadiran pihak Bank diharapkan dapat membuka jejaring dalam berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan, begitu pun dari lembaga pemerintah.

Sementara itu Ketua Dewan Pastoral Paroki, Salesius Jehadi mengharapkan bisa dijalankan semua pihak yang sudah bekerja sama.

“Harapan untuk program ini bisa dilakukan di setiap stasi wilayah/kampung, agar sejahtera, adil dan ekologis benar-benat tercapai, kerjasama semua pihak terutama jejaring dalam setiap program, komunikasi yang baik dan evaluasi berkala antar pengurus DPP, DKP, Pastor paroki, dan juga seluruh umat,”ungkap ketua DPP Kajong.

Sementara pimpinan Bank NTT Cabang Ruteng, Romy Radja Langu, menjelaskan bahwa Bank NTT telah bekerjasama dengan tokoh umat di Kajong. “Dan kita bersyukur karena Romo sangat welcome. Jadi kita mendampingi pembuatan kecap berbahan gula aren. Dalam hal ini kami minta bantuan Kantor Pusat khususnya Divisi Mikro untuk mendatangkan pelatih dari Kupang. Dan, dia melatih ibu-ibu disana itu untuk membuat kecap berbahan gula aren. Nah ibu-ibu ini difasilitasi oleh Paroki, jadi kerjasamanya triple helix. Ada paroki, Bank NTT dan juga warga setempat,”tegas Romy.