Dia menjelaskan, jika ia jualan di pasar, belum tentu pisangnya laku terjual, karena banyak pedagang yang berjualan disana.

“Saya masih kuat jadi biar saya jalan keliling supaya bisa tawar langsung. Karena dengan keliling begini pisang yang saya jual selalu habis,” jelasnya.

Oma Neno hanya mengisi perutnya apabila pisangnya sudah laku terjual. Ia akan terus jalan keliling menahan lapar dan haus demi mendapatkan uang untuk kebutuhan dua cucu kesayangannya.

“Saya pagi makan memang dari rumah, setelah jualan selesai baru saya beli nasi di warung dan makan. Kalau jualan belum habis, saya belum makan. Saya bisa tahan lapar dan haus, yang penting bisa dapat uang dan pisang laku terjual,” ungkapnya.

Kadang, kata dia, jam 12 atau jam 1 siang pisang sudah habis terjual, meski kadang juga sampai gelap baru habis. “Kalau pisang belum habis saya belum pulang. Harus jual kasih habis. Kalau tidak saya rugi. Dan kalau saya tidak bawa uang, cucu makan apa nanti,” terangnya.

Oma Neno mengakui bahwa dia akan berhenti jualan pisang keliling, jika suatu saat kakinya sudah tidak lagi kuat melangkah, dan bahunya tidak mampu memikul pisang untuk dijual.

“Kalau masih kuat saya akan tetap jalan keliling. Saya selalu katakan kepada cucu saya untuk tidak menyerah begitu saja. Tetap berusaha supaya bisa berhasil di kemudian hari. Selalu percaya Tuhan akan bantu dan berikan yang terbaik,” jelasnya.

Dia berharap agar kedua cucunya bisa berhasil di suatu saat nanti, dan berjanji tidak akan meminta balas jasa dari semua kerja keras yang sudah ia lakukan untuk mereka.

“Saya hanya berdoa semoga mereka berhasil dan bisa jadi orang yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat,” tandasnya. (Veronika).