“Saya jualan sejak tahun 1994. Jalan keliling mulai dari pasar inpres sampai dimana pisangnya habis baru saya pulang ke rumah,” ungkapnya.

Dengan tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang sudah mulai keriput, ia tetap berjuang mencari nafkah. Setiap hari dia memikul belasan sisir pisang di bahunya untuk ditawarkan ke setiap orang yang ia jumpai di jalan.

Tidak seperti penjual lain yang hanya menjajakan jualan di lapak yang sudah disiapkan di pasar. Oma Neno justru beranjak dari kediamannya di Nekamese menuju Pasar Inpres Naikoten untuk membeli pisang, sebelum mengelilingi Kota Kupang untuk menjualnya.

“Jam 5 saya ke Pasar Inpres dan membeli pisang dengan harga Rp50 ribu untuk 3 sisir pisang, dan dijual kembali seharga Rp20 ribu per sisir,” ungkapnya.

“Saya untung Rp10 ribu, tetapi tetap bersyukur karena dari hasil jualan ini saya bisa penuhi kebutuhan hidup setiap hari dan membiayai kuliah dua orang cucu saya,” tambahnya.

Dia menjelaskan, jika ia jualan di pasar, belum tentu pisangnya laku terjual, karena banyak pedagang yang berjualan disana.