Lalu sorgum, presiden menggaungkan komoditas ini. Salah satu lahan harapannya NTT. Sementara Kelor, berpuluh tahun, kelor adaah food security bagi masyarakat NTT sehingga dia menjadi harapan baru namun syaratnya hilirnya harus diperbaiki.

Dirut Alex Beberkan Peran Besar Bank NTT dalam B’Pung Petani

Dirut Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho menjelaskan bahwa krisis pangan ini bukan baru pertama kali di  dunia dan Indonesia oleh karena itu guna menyikapi krisis pangan tentu kita berangkat dari babagaimana membangun ketahanan pangan di NTT.

“Bahwa memang untuk komoditi tertentu, beras, saat ini Indonesia dalam posisi  swasembada namun dalam keseharian dalam keperluan pangan, orang tidak hanya makan beras. Ada komoditi lainnya. Tentu menjadi sesuatu yang dibutuhkan ,” jelas Alex.

Krisis terjadi ketika permintaan pasar tinggi, sedangkan kerersediaan sedikit. Sehingga inflasi terjadi. Cabe rata-rata didatangkan dari Jawa, Bali dan NTB ke NTT. Karena itu langkah cepat yang harus dilakukan yakni memastikan ketahanan pangan. Didukung aspek keterjangkauan distribusi pangan.

“Inilah yang menyebabkan inflasi menjadi tinggi. Oleh karena itu Bank NTT sebagai agen of development harus ada di seluruh aspek ini. Bagaimana mendukung pemerintah dalam ketersediaan pangan. Oleh karena itu dalam ekosistem pembiayaan baik dalam komoditi jagung dan sebagainya. Kita mendesain skim dengan me-reenginering dan me-refocusing serta merevitalisasi unit kerja kita sehingga antara skim produk dan unit kerja kita itu ada keselarasan untuk memberikan akses yang mudah, murah dan cepat,” tambah Alex lagi.

Dia optimis jika berkolaborasi dengan semua sumberdaya yang ada, dengan pola multihelix yakni melibatkan semua seperti akademisi, asuransi, perbankan, lembaga penjaminan, dan sebagainya, bahkan pihak-pihak lainnya yang mempunyai stimulus kebijakan dalam ekosistem akan mampu memberikan daya dorong yang kuat untuk membangun dan mengakselerasi ketahanan pangan berbasis komoditi unggulan di NTT.

Alex pun menjelaskan alasan hadirnya aplikasi B’Pung Petani. Pihaknya mengidentifikasi bahwa krisis terjadi ketika ketiadaan akses sehingga dibuatlah aplikasi B’Pung Petani untuk nantinya tenaga-tenaga PPL Pertanian menginput data setelah diverifikasi by name by adress, lahan yang digarap, kemudian varian yang ditanam.