“Almarhum baru sembilan bulan kerja di Kabupaten Nduga. Sebelumnya, dia bekerja di Timika sekitar enam tahun lebih. Jadi almarhum lebih lama bekerja di Timika,” terang Yosep.

Dia menerangkan, sebelum peristiwa naas menimpa Yohanes, pihaknya sama sekali tidak merasakan firasat apapun. “Tidak ada firasat pak,” ungkapnya.

Kendati demikian, kata Yosep, sebelum mendengar kabar duka itu dari Tanah Papua, Yohanes Rungkas sempat menelepon ibundanya, dan menceritakan pertistiwa yang melukai bagian kakinya.

“Malamnya, almarhum telepon mamanya dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Bahwa dia mengalami luka di bagian kakinya,” jelasnya.

“Lalu mama bilang kau turub sudah. Namun Yohanes menolak permintaan ibunya. Almarhum kena tembak saat kerja. Saat di jalan pergi antar barang dari bandara,” tambahnya.

Dua minggu sebelum kejadian, almarhum sempat mengirimkan uang dengan nilai Rp2 juta rupiah untuk ibundanya, yang berada di Kabupaten Manggarai, NTT.

“Dua minggu sebelum kejadian ini, Yohanes sudah pernah kirim uang sebanyak Rp2 juta untuk mamanya,” ungkap Yosep.