Ia menjelaskan, Bank NTT telah melakukan pendataan seluruh produk UMKM yang ada di desa-desa, untuk terus dibimbing menuju kemandirian.
Bank NTT juga bekerja sama dengan Badan POM untuk pengendalian mutu produk UMKM dan Kemenkumham untuk perlindungan usaha UMKM agar bebas dari pesaingan-persaingan yang tidak sehat.
Dirut Bank NTT menambahakan, langkah selanjutnya yaitu kurasi yang harus dibangun bersama-sama agar UMKM binaan bisa terlatih dan memperbaiki banyak hal termasuk packaging dan kualitas.
“Sehingga ketika UMKM menjadi besar dan berpotensi ekspor, kurasi memberikan suatu jaminan mutu yang memadai bagi pasar. Bank NTT tidak bisa sendiri, dan harus menggandeng akademisi, swasta, serta pemerintah dalam konteks pentaheliks,” jelas Dirut Alex Riwu Kaho.
Sosok Direktur Utama yang berhasil membawa Bank NTT naik kelas ke level Bank Sehat ini menjelaskan, saat ini lebih dari 6000-an pelaku UMKM di NTT yang produknya akan diakses secara online melalui e-Katalog dan Marketplace Go NTT.
“Kita sudah membuat media semacam e-Katalog dan marketplacenya, di mana UMKM-UMKM yang terseleksi dan memenuhi standar-standar tertentu kita dorong masuk ke marketplace melalui e-Katalog ini bisa diakses oleh semua pihak,” jelasnya.



Tinggalkan Balasan