Untuk itu instrumen atau aturan juga perlu mendukung ini di Kota Kupang khususnya karena potensi budaya dan melestarikan adanya cendana yang bernilai tinggi di Kota Kupang. “Karena masyarakat yang diuntungkan nantinya,” ungkap dia.

Terdapat 116 pohon yang ditanam di Taman Jalur Rempah di sekolah tersebut. Bibit ini juga diadakan bekerja sama dengan ahli cendana. Pihaknya juga akan berkomunikasi dengan ahli pertanian untuk membudidayakan rempah-rempah yang juga langka didapatkan saat ini.

“Karena kita harus memulai dan pelan-pelan ini diharapkan dapat menjadi gerakan yang sama di sekolah lainnya,” ungkapnya lagi.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Henderina Laiskodat, usai penanaman cendana yang saat itu juga berkomitmen mengajak sekolah lainnya dalam visi yang sama.

“Ke depannya tentu akan ada sekolah lainnya yang mencontohi ini. Pasti ke depan dinas kami akan ajak semua sekolah. Sebenarnya sekolah-sekolah yang lain telah juga menanam tetapi tidak beragam seperti ini,” sebutnya.

Menurutnya, SMKN 6 Kupang memang memiliki pengalaman tentang penanaman cendana serta dapat dapat menjaga dan merawat bibit yang ditanam pada hari tersebut.

“Tanaman cendana memang sensitif dan SMAN 6 Kupang sebelumnya pernah menanam juga sehingga ketika Jalur Rempah singgah di Kupang maka sekolah ini yang dipilih,” tukasnya.

Perjalanan Muhibah Budaya Jalur Rempah memfokuskan pada pemahaman dan aksi bersama sebagai usaha budidaya cendana, mulai proses penanaman bibit hingga perawatan yang membutuhkan proses tak mudah.

Hal ini harus menjadi komitmen bersama antara pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat, agar minyak cendana terbaik di dunia ini tidak punah dari bumi NTT ini.

“Tanaman endemik cendana menjadi salah satu tanaman yang memiliki nilai sosial, budaya dan ekonomi. Cendana di NTT saat ini mengalami penurunan populasi akibat berbagai perilaku manusia yang cenderung melihat dari sisi ekonomi semata. Padahal berabad-abad lalu cendana merupakan salah satu bahan pelengkap untuk berbagai ritual adat,” kata Deddy F. Holo, Koordinator Perubahan Iklim dan Bencana, Walhi NTT.