“Resikonya petani tidak bisa prediksi. Contonya di Desa Wewo, Manggarai, dan Colol di Manggarai Timur. Dimana dua musim tidak pernah buah, karena perubahan cuaca. Sehingga berdampak terhadap pendapatan petani,” terangnya.
Meski demikian, Sahid Abdulah menilai belum ada kesadaran dari masyarakat, terutama generasi muda, terkait perubahan iklim yang sedang terjadi di lingkungan mereka masing-masing.
“Anak muda perlu bicara soal wacana. Tetapi pengen didorong untuk melakukan aksi di lingkungan mereka. Itu target besar kita,” ungkapnya.
Selain itu, kata dia, jika berbicara perubahan iklim di tingkat birokrasi, nasional harusnya tidak lagi berbicara konseptual, teori dan definisi. “Tetapi dibarengi aksi nyata, karena dampaknya sudah terjadi, sehingga anak muda yang akan menjadi pionir atau contoh,” ungkap Said Abdula.
Dia berharap kepada generasi muda yang turut berpartisipasi dalam kegiatan itu, untuk mengaplikasikan teori yang diperoleh kepada masyarakat di wilayanya masing-masing.
“Kita harap ketika pulang, bisa membangun jejaring, misalkan dengan BMKG dan Diskominfo Kabupaten, sehingga bisa dapat informasi ramalan cuaca, dan di informasi kepada para petani,” harapnya.



Tinggalkan Balasan