Melihat kualitas beras yang dihasilkan, Bunda Julie kemudian menawarkan kepada para petani, untuk melihat pangsa pasar untuk memasarkan hasil bumi dari para petani.
“Jadi jangan hanya sekedar kita panen saja. Harus ada keinginan untuk memasarkan. Saya bisa intervensi untuk memfasilitasi pemembuatan kemasan 5kg, 10kg dan 20kg untuk dipasarkan,” jelasnya.
Dia menjelaskan, jika disetujui, ia segera meminta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTT mewajibkan semua hotel untuk mengambil sayuran, beras dan hasil pertanian lain dari petani NTT, tanpa menginpor dari luar.
“Sehingga saya minta gubernur membuat Peraturan Gubernur (Pergub) bahwa tidak boleh ada produk luar yang masuk ke NTT. Hanya boleh menggunakan produk asli NTT,” ungkapnya.
Meski demikian, Bunda Julie meminta kepada para petani untuk meningkatkan hasil panennya, sehingga tidak hanya digunakan untuk makan. Harus menyimpan banyak stok, demi memenuhi permintaan pasar.
“Ketika sudah panen, jangan hanya simpan untuk dimakan saja. Harus tingkatkan hasil panen supaya bisa dijual. Jadi pelakunya juga harus banyak,” tandasnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kupang Amin Juaria, menyampaikan apresiasi kepada Julie Sutrisno Laiskodat, karena hadir melakukan panen simbolis bersama para petani di Kabupaten Kupang.
“Saya sangat bersyukur atas kehadiran Bunda Julie. Ini merupakan kebanggan bagi kami, khususnya para petani Kabupaten Kupang,” ungkapnya.
Sepanjang tahun 2021, kata dia, hampir seluruh lahan para petani dapat dipanen secara baik. Dan pada tahun 2022, masyarakat di Kecamatan Kupang Timur menanam padi hampir 5000 hektar dengan hasil 4 ton.
“Puji Tuhan. Tahun ini hampir semua tanaman kita panen dengan baik. Dan ini merupakan berkat bagi para petani di Kabupaten Kupang,” pungkasnya. (*)







Tinggalkan Balasan