“Jadi berita-berita itu bohong dan tidak bisa dibuktikan. Karena sebenarnya itu tidak ada kerusakan hutan mangrove,” ungkap Greg.

PT. IDK justru bekerjasama dengan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Malaka dan sejumlah instasi terkait untuk berupaya menjaga ekosistem dari hutan mangrove.

“Jadi PT. IDK kerja sama dengan Pemda Malaka dan instansi terkait, berupaya untuk menjaga ekosistem hutan mangrove dengan melakukan bhakti sosial berupa penanaman pohon mangrove di pesisir pantai dan kawasan sekitar lahan tambak garam,” tegasnya.

Kehadiran PT. IDK di Desa Rabasa sangat berdampak bagi warga, dan memilki nilai positif yang dapat dimanfaatkan dan dinikmati oleh masyarakat, khususnya bagi warga yang kesulitan mencari lapangan pekerjaan.

“Karena masyarakat yang dulunya pengangguran dan tidak memiliki penghasilan, sekarang justru bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti makan, minum, dan menyekolahkan anak mereka,” jelasnya.

Dijelaskan Greg, sebagian besar masyarakat Desa Rabasa sangat mendukung pembangunan proyek tambak garam oleh PT. IDK di Desa Rabasa. Sementara yang menolak hanya sebagian kecil warga pemilik lahan.

“Kebanyakan yang menolak itu karena mereka yang memiliki kepentingan. Sementara warga yang tidak memiliki lahan juga ikut menolak, karena mereka berpikir tidak akan diangkat jadi tenaga kerja di PT. IDK,” terangnya.

Menurut Greg, lahan yang dikontrak PT. IDK di kawasan tambak garam memiliki luas empat hektar, dengan nilai kontrak Rp1,5 Juta per hektar selama sepuluh tahun.

“Kemudian keuntungan yang didapat pemilik lahan dan warga lokal adalah diberikan kesempatan untuk bekerja sebagai tenaga kerja sesuai kealihan dan ketrampilan yang dimiliki,” ungkap Greg.

Meski banyak pro kontra terkait pembangunan tambak garam, hingga saat ini proses pembangunan di lokasi tambak garam tetap berjalan seperti biasa.

“Walaupun banyak kendala yang membuat kegiatan ini terhambat karena pemberitaan atau isu terkait pengrusakan ekosistem alam, sengketa lahan, sebagian tanah yang masuk hutan lindung, dan kondisi alam atau cuaca yang membuat budi daya garam menjadi lambat,” tandasnya.