Dengan pengalaman di daerah lain, Nyoman sampaikan bahwa dengan model Qris atau pembayaran nontunai telah berdampak sangat luar biasa pada kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar 30-70 persen.
Di samping itu ada efesiensi yang signifikan dalam pelaksanaan PAD, dan hal ini harus bisa dicontoh oleh seluruh kabupaten-kota di NTT.
Namun jika melihat NTT dari sisi indeks kompetitif, ternyata masih berada di ranking 26 dari 34 provinsi di Indonesia.
Hal ini mengindikasikan bahwa pencapaian di NTT masih jauh dari harapan.
“Ada beberapa variabel, yaitu tingkat kepemilikan smart phone dan inklusi keuangan, termasuk di dalamnya ada infrastuktur seperti akses jaringan internet,” sebut Nyoman.
Terhadap kondisi itu, Bank Indonesia bersama-sama dengan PJP, termasuk Bank NTT di tahun 2021, telah memberikan bantuan sosial Bank Indonesia berupa fasilitas wi-fi dan paket data kepada 25 pasar tradisional di NTT.
Terhadap hal ini, Nyoman mengapresiasi dukungan Bank NTT karena digitalisasi pasar tradisional sangatlah penting di dalam membangun digital di NTT.



Tinggalkan Balasan