“Itu baru 20 desa. Sedangkan target kita 200 desa bambu di NTT, dengan pelopornya para ibu-ibu. Jadi mereka akan dilatih untuk menanam dan memelihara hingga panen,” terangnya.

Banbu yang dipanen, kata dia, akan dimasukan ke pabrik untuk dilaminating seperti kayu balok, untuk menggantikan fungsi kayu dari pohon, sehingga pohon tidak lagi ditebang sembarangan.

“Jadi kita akan bagikan lahannya. Dari satu hektar lahan, 35 persen kita alokasikan untuk tanam bambu. Selebihnya bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman jenis lainnya,” jelasnya.

Ia menerangkan, semua yang dilakukan DPMD NTT memiliki tujuan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, untuk menghadapi perubahan iklim yang bisa berdampak pada sektor pertanian.

Dukung Program ICRAF di Kabupaten TTS

Kepala Dinas PMD NTT Viktor Manek, menjelaskan, di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) akan dikembangkan lahan bambu, untuk mendukung program ICRAF di DAS Benanain dan Noelmina.

“Di TTS juga harus dikembangkan. Karena bambu bisa ditanam di lahan yang kritis, miring, serta lebih cepat tumbuh. Satu hektar bambu bisa menyimpan air 5000 liter dalam satu tahun. Bayangkan kalau kita punya 100 hektar laham bambu. Berapa debit air yang bisa disimpan,” jelasnya.