“Laob ini terkenal dengan desa penghasil asam,” kata Pdt. Bila Kuelher dalam dialog bersama Gubernur Viktor Laiskodat dan rombongan, Jumat 21 Januari 2022 malam.

Setiap tahun, warga Desa Laob bisa menghasilkan 100 ton asam. Sayangnya, pendapatan yang diperoleh tidak sampai Rp1 Miliar, padahal jika dikelolah secara industri, maka harganya jauh lebih mahal.

“Mulai tahun ini, kami tidak mau lagi jual asam kami dalam bentuk mentah. Kami mau diolah menjadi Pasta. Jika 100 ton dijual dengan harga Rp150 Ribu, maka kami bisa menghasilkan Rp1,5 Miliar,” kata Pdt. Bila.

Warga Desa Laob berharap pemerintah Kabupaten TTS dan Provinsi NTT tidak hanya memberikan dana pelatihan pengolahan Asam, tetapi mereka harus ditopang dengan rumah produksi.

Selain pengembangan produk unggulan Asam, Desa Laob juga mengalami kekurangan Taman Baca. Hal ini untuk meningkatkan literasi dan minat baca anak-anak di Desa Laob.

Sementara Simon Petrus Djami selaku Ketua BPD berharap agar akses jalan menuju Desa Laob bisa segera diperbaiki, agar mereka bisa ke kota untuk memasarkan produk-produk unggulan seperti asam.