Sebelumnya tekad Bank NTT menjadi Bank Sehat atau Go TKB 2 mulai digaungkan dan dilaunching pada tanggal 30 November 2020.

Saat itu, berbagai pembenahan internal terus dilakukan. Jika sebelumnya pemberian kredit hanya dilakukan oleh orang kredit, kali ini melibatkan bagian manajemen resiko.

Hilarius menjelaskan, sebelum pimpinan mengambil keputusan, pengajuan kredit harus diajukan terlebih dahulu ke manajemen resiko. Di sana, petugas Bank NTT akan melakukan check list kelengkapan dokumen serta prospek usaha.

Pasca check list dan prospek usaha, dokumen dikembalikan lagi ke jajaran kredit untuk melakukan pelengkapan data sebelum cair.

“Itu salah satu poin yang membuat OJK menilai Bank NTT menjadi Bank Sehat. Walaupun NPL masih tinggi, tetapi mereka melihat proses pemberian kredit dari yang dulu dan sekarang, sudah jauh berbeda dan berubah,” kata Hilarius Minggu.

Dengan prestasi dan capaian sebagai Bank Sehat, tentunya tidak membuat pengurus Bank NTT besar kepala. Ke depan, Bank NTT akan melakukan berbagai pembenahan sektor kredit.

Ada 4 strategi yang bakal dilakukan, di antaranya pembenahan tata kelola manajemen resiko kredit, penerapan manajemen resiko yang lebih hati-hati, proses manajemen resiko yang harus lebih baik lagi, dan yang terakhir adalah pengendalian resiko.

Selain itu, Bank NTT juga akan masuk ke sektor pembiayaan UMKM. Dari data yang ada, saat ini pembiayaan sektor UMKM oleh Bank NTT sudah mencapai 22%. Targetnya pada tahun 2023 pembiayaan UMKM harus bisa mencapai 30%. (Ama Beding/Adv)