Gubernur VBL juga menyampaikan bahwa Pemerintah dan Gereja mempunyai peran yang penting dalam mengatasi Stunting yang masih tinggi di NTT khususnya di Kota Kupang.

“Saat ini ada sebanyak 80.909 anak yang Stunting NTT dan mayoritas ada di Kota Kupang. Maka dari itu Pemerintah Provinsi dan Kota Kupang serta Gereja mempunyai peran bersama untuk berkolaborasi agar masalah Stunting ini dapat teratasi. Karena itu saya meminta kepada para pendeta yang hadir pada hari ini agar di dalam kotbah-kotbahnya meminta kepada orang tua yang mempunyai anak yang masih balita agar ditimbang dan di ukur agar jika anak-anak tersebut Stunting maka pemerintah dapat mengintervensi dengan memberikan makanan-makanan yang bergizi agar menyelamatkan anak-anak tersebut dari Stunting.”

Gubernur VBL juga berpesan agar dari gedung gereja yang baru diresmikan pada hari ini dapat melahirkan manusia-manusia yang mempunyai output yang baik sehingga dapat membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah yang ada di NTT.

“Saya berharap dari gedung yang indah ini keluar manusia-manusia yang mempunyai input yang kuat untuk kita melihat output dalam menyelamatkan kelompok hina yang menjadi tanggung jawab Pemerintah serta kita semua sebagai individu dan pribadi sebagai tugas kita dalam pelayanan yang dipercayakan oleh penebus kita Tuhan Yesus.”

Pada kesempatan yang sama juga Ketua Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon menyampaikan pembangunan Gedung Gereja Karmel Fatululi yang dimulai sejak tahun 2007 dan diresmikan pada hari ini agar dapat mendewasakan seluruh Jemaat dan pembangunan tersebut bukan hanya pembangunan fisik akan tetapi menjadi sebuah energi yang mengikat seluruh jemaat

“Pembangunan yang memakan energi, dana, tenaga juga waktu, kiranya benar-benar akan menjadi semangat persembahan bagi Tuhan dan mendewasakan masyarakat. Kami percaya bahwa pembangunan sejak tahun 2007 sampai saat ini diresmikan pasti akan mendewasakan kita. Saya berharap pembangunan ini bukan hanya pembangunan fisik akan tetapi menjadi sebuah energi yang mengikat seluruh jemaat,” kata Pdt. Mery Kolimon.