Masruroh menegaskan, Provinsi NTT sangat penting bagi industri MICE, karena di NTT ada destinasi super prioritas Labuan Bajo dan Kota Kupang sebagai ibukota Provinsi yang memiliki banyak potensi.

“Dengan fasilitas MICE yang sangat banyak dan dapat digunakan untuk meeting namun belum diketahui oleh perusahan di Jakarta yang biasa melakukan insentif trip,” jelasnya.

Ia juga meminta bantuan media untuk proaktif mempromosikan destinasi-destinasi wisata di NTT agar bisa dijadikan destinasi insentif trip untuk perusahan-perusahan besar di Jakarta.

Terkait pertemuan perkumpulan negara-negara G-20 yang akan digelar di Labuan Bajo pada tahun 2022, Masruroh menegaskan, pihaknya telah melakukan meeting bersama Kemenkomarves untuk menyiapkan Labuan Bajo sebagai venue G-20.

Kemenparekraf dan BOLBF juga selalu mengupdate persiapan-persiapannya, seperti peningkatan Rumah Sakit menjadi kelas internasional, serta infrastruktur dan daya tarik lainnya.

“Waktu rapat pertama dengan Pak Luhut, kami dingatkan untuk mencari lokasi meeting yang beda. Meeting di atas kapal atau di Pulau Rinca. Itu yang nanti kita godok bersama-sama dengan BOLBF,” jelasnya.

Di akhir sambutannya, Direktur MICE Kemenparekraf RI, Masruroh berharap kegiatan sosialisasi CHSE pada MICE dapat bermanfaat bagi para pelaku Ekraf di Nusa Tenggara Timur.

“Saya berharap acara ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kami menantikan diskusi-diskusi lanjutan dari kegiatan kita hari ini,” tutup Masruroh.

Pantauan Koranntt.com, kegiatan sosialisasi pedoman CHSE untuk MICE berjalan lancar dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Para peserta yang hadir wajib menjalani rapid antigen, sebelum masuk ke dalam ruangan kegiatan. (*)