“Kadang korban mengalami batuk parah jelang subuh dan saya sering bangun mengecek keadaannya,” kata Ema.

Dia juga tidak tega melihat keadaan korban sehingga sering mengajak korban ke rumah sakit, namun korban sering menolak dan beralasan masih menunggu ayahnya datang dari Maumere.

“Saya pernah telepon mobil Brigade Kupang Sehat untuk menjemput korban karena saya lihat berat badan korban makin menyusut, tapi korban menolak,” ujar Ema.

Kamis (5/8) lalu, Ema kembali memaksa korban ke rumah sakit sehingga diantar kerabatnya ke Puskesmas Oesapa.

Hasil pemeriksaan menunjukkan korban menderita penyakit TBC akut, dan harus mengkonsumsi obat dalam jangka waktu lama.

Petugas Puskesmas Oesapa memberikan obat yang harus dikonsumsi korban dan diminta kembali melakukan kontrol kesehatan, dua pekan mendatang.

“Baru empat hari minum obat dari Puskesmas, korban sudah meninggal dunia,” tambah Ema.

Ema sendiri rutin mengontrol keadaan korban. Hampir setiap pagi Ema menyiapkan bubur bagi korban, terutama sejak korban dinyatakan TBC akut.