“Menyatukan dan mengumpulkan 100 pimpinan perusahaan tambang bersatu dalam sebuah karya buku, bukanlah perkara mudah. Apalagi proses penyelesaiannya hanya 3 bulan saja dan di dalam masa pandemi pula,” ujar Eko yang juga tercatat sebagai satu dari empat editor buku.
Sementara itu jurnalis yang juga anggota Dewan Pengawas LKBN Antara Mayong Suryo Laksono mengatakan baru kali ini terjadi wajah dunia pertambangan Indonesia tidak digambarkan lewat laporan tahunan, statistik produksi, grafik dan neraca pembukuan, atau aktivitas sosial sebagai buah kewajiban sosial perusahaan.
Menurutnya, wajah itu justru ditampilkan lewat kisah manusia dari para pelaku dan pekerja yang sehari-hari terlibat di dalamnya. Mereka bercerita dengan gaya masing-masing, lewat sudut pandang berbeda, meliputi bidang dan pilihan tema yang membentang luas.
“Sungguh unik dan otentik karena datang dari tangan pertama. Benar-benar sebuah cara berbeda untuk memahami dunia pertambangan Indonesia,” pungkas Mayong. (*)



Tinggalkan Balasan