P. Aloysisus Tamonob, SVD dan dua kelompok doa tersebut adalah rasul-rasul Yesus yang berani untuk bersaksi tentangNya di tengah situasi pandemi.

Mereka menyakini bahwa Yesus orang Nazaret itu selalu menaungi mereka dengan jubahNya yang ajaib dari serangan Covid-19. Sungguh luar biasa.

Dari kegiatan rohani yang dilakukan oleh misionaris tamatan dari Polandia ini bersama umatnya sangat menarik. Ada sesuatu yang baru di sana. P. Lucho begitu P. Aloysisus Tamnonob, SVD biasa disapa di Chile bukan berdevosi dan menyembah Sakramen Mahakudus di darat, di dalam gereja atau pun di gua Maria, melainkan mereka berdevosi dan menyembah Sakramen Mahakudus di atas udara, di dalam sebuah helikopter komersial.

Durasi waktu devosi dan penyembahan Sakramen Mahakudus di atas udara itu berlangsung selama dua setengah jam. Ini merupakan durasi waktu yang melebihi waktu doa rosario dan adorasi yang biasa dilakukan di dalam gereja atau kapela. Menarik, kan? Kok bisa, ya? Iya, bisa. Sebab di mana ada keinginan, di situ ada kemungkinan dan jalan.

Ide “gila” untuk berdevosi dan menyembah Sakramen Mahakudus di atas helikopter itu lahir dari kedalaman iman dan pengalaman mistik seorang ibu bernama Sandra Marible Donoso. Ia adalah salah seorang anggota kelompok doa Rosario Mar a Mar.

Mengapa wanita paruh baya itu rela mengeluarkan biaya yang begitu mahal untuk menyewa helikopter untuk kegiatan rohani yang saat ini sudah tidak lagi diminati oleh Sebagian masyarakat Chile?

Ah, rupanya Ibu Sandra sangat ingin membagikan pengalaman mistiknya kepada sesama seperti Bunda Maria membagi rahmat Allah kepada saudarinya Elisabeth. “Mestinya kita membawa kabar gembira, membawa Yesus kepada mereka yang sudah acuh tak acuh dengan Tuhan”, tegasnya dengan penuh antusias. Itulah tujuan Ibu Sandra.

Demi mewujudkan misi mulianya itu, ia sempat berpikir untuk melakukan pentakhataan Bunda Maria dari Gunung Karmel mengelilingi kota Santiago dengan iringan kendaraan.

Namun, situasi pandemi membatalkan niat baiknya itu. Tapi, Ibu Sandra tetap teguh dalam iman, ia tetap berharap dan tak hilang akal.