“Di kampung ini tidak ada air bersih. Jika kami ingin mendapatkan air bersih, kami harus berjalan kaki sepanjang tiga kilo meter dari sini menuju mata air.
Rutinitas ini terpaksa kami lakukan setiap hari, bahkan hal ini dilakukan dari zaman nenek moyang kami, sampai saat ini,” ucap Anton Radja.
Jika ingin mendapatkan air, para orang tua ataupun anak-anak terpaksa bangun jam 5 pagi menuju mata air, dan kembali tiba di kampung pada jam 8 pagi. Mereka mengambil air menggunakan ember atau jerigen. Rutinitas ini dilaksanakan setiap pagi sebelum bekerja untuk memcari sesuap nasi.
Jarak yang cukup jauh, membuat mereka membawa air yang sangat terbatas. Bahkan pada umumnya, anak-anak di kampung Toko Ropi tidak mandi ketika ke sekolah. Hal ini terpaksa dilakukan, agar ketersedian air di rumah tetap terjaga untuk memenuhi keperluan lainnya.
Memurut Anton Radja, sebagian warga kampung Toko Ropi terpaksa meninggalkan kampung halamanya dan memilih merantau karena kesulitan mendapat ketersedian air bersih.



Tinggalkan Balasan