Menurutnya, di bagian belakang bangunan Ruko, para tukang langsung menaikan batu di atas pagar rumah miliknya tanpa sepengetahuannya. Padahal, ia telah mengingatkan para tukang untuk tidak membangun di atas pagar miliknya.

“Dia sambung langsung tanpa ada pemberitahuan. Ini sangat aneh dan tidak beretika. Ketika saya pulang tugas dari Maumere, mereka sudah naikan batunya,” tegasnya.

Robert menjelaskan, konstruksi pagar rumah miliknya bukan dirancang untuk memikul beban bangunan berlantai dua milik Fery Hamid. Harusnya Feri membangun tembok di sebelah untuk menaikan batu.

“Bukan langsung sambung di atas pagar rumah saya. Ibarat kita manusia memiliki kaki standar, dan dipaksa untuk pikul beban yang berat. Otomatis lama-kelamaan akan pincang. Demikian bangunan ini,” jelasnya.

Ia menuturkan, jika bangunan berlantai dua dan seterusnya, wajib diperhitungkan strukturnya sehingga mampu memikul beban yang disebabkan angin, gempa dan kemungkinan lainnya.

“Karena bangunan kosong sangat beda jika sudah terisi beban. Sehingga perlu diperhitungkan beban angin dan gempa. Karena gempa ada yang horizontal dan vertikal. Sehingga strukturnya harus didesain untuk memikul beban tersebut,” terangnya.