“Saya hanya kasihan dengan keadaan ekonomi masyarakat. Mereka boleh berhutang untuk membayar PAM, tetapi petugas hanya masa bodoh. Kami juga hanya pasrah terhadap PAM. Kalau pun jam 12 malam baru (air,red) jalan, ya terpaksa kami tungggu,” sambungnya lagi.
Sebagai masyarakat kecil, kata GHK, dirinya sangat membutuhkan air untuk keperluan anak-anaknya pergi ke sekolah, dan demi mencukupi kebutuhan makan dan minum di dalam keluarga.
“Ini keluhan kami dari warga masyarakat Desa Golo Mendo, kami merasa bahwa kami ini seperti dijajah oleh PAM yang ada di Desa. Kejadian sudah berulang-ulang kali terjadi, dan kami merasa tidak diperhatikan oleh mereka,” jelasnya.
GHK berharap agar pihak petugas dari PDAM Tirta Komodo bisa melakukan pengontrolan rutin soal air minum yang disalurkan kepada masyarakat.
“Harapan kami agar pegawai PAM tidak hanya duduk diam di kantor pusat, tetapi mereka harus bisa melaksanakan kegiatan kontrol keliling. Kalau boleh 3 kali dalam seminggu, sehingga keluhan dari masyarakat mereka bisa dengar, dan melihat langsung kondisi di lapangan,” tuturnya.



Tinggalkan Balasan