“Harapannya, PCR ini tidak semata digunakan untuk Covid-19. Tetapi kita sedang kembangkan agar untuk mendeteksi penyakit lain, dan juga bisa digunakan untuk memeriksa kontaminasi daging. Sehingga daging dari NTT berkualitas sampai ke daerah mana pun,” pungkas Nae Soi.
Sementara Pengawas Yayasan Satia Budi Darma Setia, Vincentius Budhyanto mengatakan, pihaknya memperoleh total sumbangan untuk Covid-19 berjumlah Rp76 Miliar.
Sebanyak Rp72 Miliar berhasil disumbangkan, untuk membangun beberapa laboratorium di Universitas, maupun rumah sakit di beberapa wilayah di Indonesia.
“Semntara operasional kami sebanyak Rp546 Juta. Artinya kurang dari 1 persen dari total sumbangan digunakan untuk operasional dan distribusi bantuan. Sisanya efektif untuk mengurangi penyebaran Covid-19,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pihaknya memilih memberikan bantuan kepada Sumba Timur dalam hal ini RSUD Umbu Rara Meha, karena mereka menilai dari beberapa faktor. Salah satunya adalah daerah tersebut memiliki kesenjangan, terutama fasilitas kesehatan untuk menangani Covid-19.
“Di NTT waktu awal pandemi hanya ada di Kupang. Untuk itu, kami berupaya dari Yayasan mendorong, agar dibangun laboratorium PCR di Sumba,” ungkap Budidharma.
Angel Supit selaku perwakilan dari Wahana Visi Indonesia berharap, agar bantuan laboratorium PCR tersebut bisa digunakan oleh semua orang, khususnya anak-anak agar mereka lebih paham dan kuat dalam pencegahan Covid-19.
“Harapan kami semua anak di Sumba Timur boleh memiliki hidup yang sesungguhnya karena mereka adalah masa depan bangsa,” ujar Angel.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan dukungan dari Pemkab Sumba Timur, dan pihak Rumah Sakit, sehingga kami bisa berpartisipasi dalam acara ini. Semoga kehadiran kami bisa membantu Sumba Timur terbebas dari Covid-19,” tandasnya.*







Tinggalkan Balasan