“Sekarang ini akan banyak bantuan yang berdatangan. Dan itu harus dikelolah secara baik. Jangan sampai hanya menumpuk pada satu tempat. Karena masyarakat lain sangat kesulitan,” kata Emilia Nomleni.
Menurutnya, untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak, harus dibutuhkan koordinasi yang kuat. Sehingga diharapkan kepada seluruh aparat desa untuk melakukan pendataan terhadap masyarakat
“Jadi kepada aparat tingkat RT dan RW sampai Desa, harus mendata masyarakat, agar mendapatkan suport dari pemerintah, sehingga mereka tetap survive. Karena kita memiliki siatem kabinet pemerintahan yang lengkap dari pusat sampai ke desa,” jelasnya.
Dia mengatakan, pemerintah provinsi tidak bisa sendirian melakukan pendataan kepada masyarakat, tanpa mendapatkan dukungan dari pemerintah Kabupaten.
“Kami di Provinsi tidak bisa sendirian melakukan proses ini, kalau dari Kabupaten tidak memberikan dukungan. Karena informasi itu kita harus dapatkan dari tingkat bawah,” jelas Emi Nomlemi.
Sehingga, kata dia, koordinasi berjejaring dalam rangka penanggulangan bencana harus bisa berjalan, Sehingga semua masyarakat bisa menjawabi kebutuhan mereka.
“Jadi kita minta supaya bantuan tersebut harus didapatkan oleh semua masyatakat, dan tidak ada yang tercecer,” tegasnya.
Sementara pada tahap rehabilitasi, rekonstruksi dan tanggap darurat harus tepat pada sasaran. Seperti intervensi pangan harus betul-betul sampai kepada masyarakat.
“Dukungan ini tentu tidak memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, tetapi paling tidak bisa memanimalisir kondisi masyarakat saat ini,” pungkas Nomleni.
Hingga Kamis 15 Februari 2021, total korban yang meninggal dunia akibat badai siklon tropis seroja di NTT mencapai 181 jiwa. Sedangkan 47 orang belum ditemukan.*







Tinggalkan Balasan