Ketika orang melakukan prostitusi, awalnya bukan pada motif ekonomi, tapi awalnya motif emosional psikologis seperti lari dari rumah demi mencari kenyamanan.
Tak hanya itu, Jefrin juga menjelaskan, kasus bunuh diri yang kerap terjadi saat ini bukan karena korban punya masalah, tetapi ketiadaan tempat untuk bertanya dan tiada tempat untuk berlari.
“Jadi orang bunuh diri itu bukan karena orang mau mati, tetapi dia ingin lari dari masalah. Soalnya keluarga sudah amburadul, ya mau lari kemana,” terangnya.
Dia mengimbau pemerintah dan semua pihak untuk duduk bersama, mencari akar persoalan, serta merumuskan solusi yang harus ditempuh untuk mengatasi kasus bunuh diri yang sering terjadi di NTT.
Jefrin juga menambahkan, kegiatan webinar harus menjadi tradisi rutin, karena tema-tema kehidupan ini sangat dekat dengan pendidikan.
“Kegiatan seperti ini sebenarnya tidak hanya edukasi, tetapi menguatkan nilai diri. Jadi tidak hanya mendapatkan pengetahuan tapi mendapatkan penguatan,” tandasnya.
Sementara Ketua Panitia Webinar, Dr. Sabina Ndiung, M.Pd menyampaikan, kegiatan Webinar merupakan sebuah program yang dilaksanakan dari tahun ke tahun.
“Karena ini kan tema tahunan, berarti semua mahasiswa itu harus mendapatkan peluang yang sama dan untuk mendapatkan informasi yang sama, sehingga mereka juga mendapatkan pengetahuan yang sama,” ucap Sabina Ndiung.
Dia berharap, agar pengetahuan yang didapat oleh mahasiswa hari ini bisa menjadi penguatan bagi mereka, dalam menghadapi tantangan jaman yang terjadi saat ini.
“Yang kita harapkan kepada mahasiswa ke depan adalah, paling tidak melalui pembekalan pengetahuan yang mereka peroleh saat ini, mereka lebih selektif lagi dalam bersikap. Sehingga nanti ke depan mereka mungkin tidak terjebak dalam hal pergaulan bebas,” harap Sabina Ndiung.
Pantauan Koranntt.com, webinar ini diisi dengan berbagai gagasan dan pertanyaan dari para peserta, sehingga terjadi diskusi yang cukup alot antara mahasiswa dan pemateri.*







Tinggalkan Balasan