Untuk Tahun Buku 2021, sekalipun tertekan karena wabah virus Corona, pihaknya merencanakan penambahan anggota baru sejumlah 1.750 dan asset sebesar Rp14 Miliar.
Strategi yang diambil adalah menggerakkan anggota lama untuk merekrut anggota baru, mengembangkan titik-titik pelayanan ke beberapa Paroki, dan membuka tempat pelayanan di wilayah kota Ruteng.
“Kami menerapkan bunga sebesar 1,8% menurun, mau diturunkan lagi tetapi sekarang masih berat karena cukup menurun satu digit, nanti itu akan menghilangkan ratusan juta. Maka untuk sementara kami bertahan di 1,8% menurun,” jelasnya.
Tidak hanya mengurus uang simpanan dan melayani pinjaman anggotanya, Romo Leobardus juga menyentil soal solidaritas anggota dalam menangani persoalan, jika ada anggota meninggal dunia.
“KSP Kopkardios juga menyiapkan anggaran khusus bagi anggota yang meninggal dunia. Anggaran khusus itu adalah dana solidaritas duka anggota (DSDA). Kalau ada anggota yang meninggal, semua anggota yang lain terlibat memberi itu sumbangan untuk meringankan mereka yang berduka. Dalam hal ini yang penting laporan cepat,” imbuhnya.
Sementara Wakil Ketua KSP Kopkardios, Kanisius Teobaldus Deki, S.Fil.M.Th, mengatakan, kredit macet turun dan saat ini di angka 6,9.
“Jadi sebenarnya kalau di standar gerakan koperasi kredit Indonesia, dianggap maksimal adalah 5%. Kita malah di atas 1,9% saja, di atas standar ideal kredit macet. Jadi kita ada pada posisi itu,” ucap Kanisius.
Dia menambahkan, koperasi adalah milik anggota dan bergantung pada anggota. Anggota yang punya tanggung jawab terhadap keberlangsungan koperasi.
“Jadi tekanan kita pada pendidikan. Kalau lembaganya mau jatuh, anggotanya tinggal pilih. Tetapi sebenarnya, dimensi tanggung jawabnya mereka besar, maka kita diberlakukan seperti lembaga keuangan lain, dimana diberi semacam kemudahan-kemudahan,” jelas Kanisius.
Kemudahan yang ditawarkan adalah anggota harus tetap membayar, supaya sistem tidak menganggap mereka lalai.
“Rupanya ini berjalan, sehingga angkanya tadi justru turun pada tahun ini. Kredit macet atau lalainya kecil, hanya terpaut 1,9% di atas standar ideal gerakan koperasi kredit di Indonesia,” tutup Kanisius.*







Tinggalkan Balasan