“Kami lewat kali dan panjat pagar, karena jalan yang biasa lewat sudah ditutup, maka jalan satu-satunya terpaksa kami harus lewat kali,” tutur Fitri kepada wartawan, Kamis 18 Maret 2021.

Selain harus melewati jembatan kayu dan memanjat pagar, kendala terbesar yang dihadapi para siswa ketika musim hujan, adalah banjir dan kondisi jembatan kayu yang sudah lapuk.

“Kami sangat kesulitan, kalau musim hujan. Ditambah lagi jembatannya sudah lapuk, sehingga kami harus ikut jalan umum yang jaraknya sangat jauh,” ucap Fitri.

Hal senada disampaikan guru SD Petra, Neldiana Mau. Menurutnya, akses jalan tersebut sudah ditutup sejak tahun 2020, sehingga sangat menyulitkan para siswa, guru dan orang tua.

“Memang terdapat akses jalan lain, namun para siswa, guru, dan orang tua harus melewati jalan umum yang jaraknya 5 KM, dan sangat beresiko karena banyaknya kendaraan yang bisa menyebabkan kecelakaan,” jelas Neldiana.

Dia mengaku prihatin melihat para siswa yang harus bersusah payah, bahkan bertaruh nyawa demi menuntut ilmu di sekolah, karena kondisi jembatannya sudah sangat parah.