Nubatonis menjelaskan, dari hasil pungut sampah, ia hanya dihargai Rp1.000 per kilo. Biasanya ia mengumpulkan sampah hingga 3 minggu baru dihantar untuk ditimbang.

“Biasanya saya timbang di Oebufu. Per kilonya Rp1.000. Jadi saya simpan di rumah sampai banyak, baru ditimbang. Biasanya saya dapat Rp75.000 sampai Rp100.000,” ungkapnya

Uang yang diperoleh Marten Nubatonis, sebagian disisihkan untuk membeli kebutuhan rumah tangga, dan sisanya disimpan untuk kebutuhan biaya sekolah anaknya.

“Paling utama beli beras, sisanya nanti disisikan untuk ongkos anak sekolah. Karena anak saya tidak dapat beasiswa jadi tidak bisa ringankan beban saya,” ungkapnya.

Sementara ditengah pandemi Covid-19, Marten Nubatonis mengakui hidupnya semakin sulit. Namun ia juga sangat bersyukur, karena keluarganya mendapatkan bantuan pemerintah, baik dari pusat maupun Kota Kupang

“Saya bersyukur karena dapat bantuan dari pemerintah Kota Kupang, maupun dari pemerintah pusat. Sehingga bisa meringankan beban kami,” imbuhnya.

Selain Marten Nubatonis, di beberapa titik di Kota Kupang pun terdapat beberapa orang yang hidupnya bergantung pada sampah.