“Sekali panen, cabe keriting 50 kg, dan cabe rawit 38 kg. Total sekitar 88 kg. Setelah itu, langsung didistribusi ke pasar Waikabubak, Sumba Barat, dan Sumba Tengah untuk dijual,” Jelasnya
Selain itu, kata Oktavianus, menjadi seorang petani merupakan sebuah profesi yang sangat mulia. Pasalnya, bukan hanya dirinya yang menikmati hasilnya, tetapi ia juga mampu mempekerjakan sebanyak lima orang untuk bantunya memanen.
Mengakhiri perbincangan, Pria kelahiran 1994 ini mengajak semua generasi muda agar tidak malu dan gengsi menjadi petani. Harus bisa melihat peluang usaha untuk perubahan, dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Saya harap kepada semua generasi muda untuk tidak malu berkebun atau menjadi petani. Karena sesuatu yang digeluti pasti akan berhasil,” katanya
Ia juga berharap kepada Pemda setempat untuk lebih memperhatikan dan mengutamakan pengembangan sektor pertanian yang merupakan ujung tombak pendapatan masyarakat.
“Kita harap Pemda bisa memperhatikan. Bila perlu hasil pengembangan di sektor tani dapat diekspor keluar NTT,” Imbuhnya (ek/kn)



1 Komentar
Saya juga petani sawah. Tidak malu dengan profesi ini. Kenapa? Karena Allah memberikan pekerjaan bertani sejak dari zaman Eden. Kerjaan petani mulia karena dapat memberikan makanan bagi orang lain. Bayangkan semua orang jadi kantoran, apakah uang dapat di makan? Hanya petani yang dapat menghasilkan makanan untuk umum.