Masyarakat feodal selalu menghasilkan manusia dengan dua tipe mental. Pertama manusia bermental atasan, kedua manusia bermental bawahan.
Manusia tipe pertama selalu ingin ada di posisi atas. Ia ingin dihormati dan didengar oleh manusia tipe bawahan. Ia juga tidak suka jika ada sesamanya yang lebih maju atau lebih baik darinya. Ia akan merasa tersaingi.
Sedangkan manusia kedua, ia selalu tidak punya rasa percaya diri dan merasa rendah diri. Ia menerima dan betah berada dibawah. Ia seringkali dituntut untuk bersikap sopan oleh manusia tipe pertama, meski sedang diperlakukan secara tidak adil. Contohnya, protes masyarakat adat saat menolak perampasan tanah oleh pemerintah yang dianggap tidak sopan. Padahal, orang melakukan protes itu karna berhubungan dengan alat produksi yang selama ini mereka gunakan untuk bertahan hidup.
Struktur Feodal
Bangsa Indonesia telah merdeka selama 77 tahun, berbagai agama dan ajaran pun telah kita terima. Sistem demokrasi pun demikian. Sayangnya, praktik budaya peninggalan sistem feodalisme masih ada yang tersisa. Sistem ini harus kita deteksi, lalu kita tolak dalam bentuk apapun.
Jika dulu, ada rakyat jelata yang ingin bertemu dengan seorang raja, ia harus menunduk atau berlutut. Saat ini, budaya seperti ini pun masih ada. Hanya saja, berubah model dan bentuk. Budaya feodal seperti ini biasanya dipelihara dengan baik oleh sekian elite penguasa di daerah kita.
Pada zaman penjajahan dulu. Saat para penjajah (kolonial) datang, sebagian raja mengambil keuntungan dari struktur feodal di masyarakat. Para penjajah tidak akan mencopot raja, selama ia masih mau mengabdi pada kepentingan mereka.
Akhirnya, rakyat jelata diperas oleh para bangsawan yang bekerja sama dengan penjajah. Jadi, penjajah memeras para bangsawan, dan para bangsawan ini memeras rakyat jelata.Kira-kira seperti itulah strukturnya, sehingga rakyat semakin tertindas.
Nah, biasanya orang yang tertindas akan musnah sisi kemanusiaannya. Sifat manusianya hilang, yang tersisa adalah sisi kebinatangnnya. Jika dalam keadaan miskin, mereka mudah bermusuhan dengan sesamanya. Saling curiga, saling intai, bahkan sampai “saling tikam dari belakang”.







Tinggalkan Balasan