Kupang, KN – Lembaga perguruan tinggi di Indonesia sedang menghadapi tantangan yang serius, untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di tengah era 4.0.
Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) sebagai salah satu organisasi yang mewadahi Perguruan Tinggi Katolik di Indonesia terus bertransformasi untuk menyiapkan generasi Indonesia yang mampu menjawab tantangan jaman.
“Akan ada banyak lapangan pekerjaan baru yang sekarang belum ada. Menghadapi tantangan seperti itu apa yang harus kita lakukan? Ada tantangan industri 4.0, ada perang Rusia-Ukraina, krisis global, climate changes dan lain-lain. Ke depan kita wajib berubah. Perubahan itu dilakukan dengan cara transformasi,” kata Ketua APTIK Prof. Dr. B. S. Kusdiantoro, Kamis 20 Oktober 2022.
Menurut Prof. Kusdiantoro, mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi belum tentu bisa mendapatkan pekerjaan dengan modal ijazah yang dimiliki, karena demand atau permintaan pasar terhadap tenaga kerja di era ini sangatlah berbeda.
Di samping itu, lulusan-lulusan luar negeri pun sudah antri untuk mendapatkan pekerjaan di dalam negeri. Tantangan-tantangan ini hanya bisa dihadapi dengan cara melakukan transformasi dalam tubuh perguruan tinggi Katolik di Indonesia.
“Agar kita tidak terseret dalam turbulensi tadi, kita diuntungkan oleh ajaran sosial gereja yang selalu diperbarui. Jadi ada titik terang, ada kompas atau ada arahan. Kita harus ke sana dan kembali untuk berkontribusi kepada masyarakat,” ungkapnya.
Ketua Yayasan Pendidikan Santo Arnoldus Janssen (Yapenkar) P. Yulius Yasinto, SVD mengatakan, misi dasar APTIK adalah untuk menyatukan Perguruan Tinggi Katolik yang ada, guna mengejar tujuan yang sama yakni menyelenggarakan pendidikan Katolik yang sesuai dengan ajaran Gereja, sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa sekat.
Semua anggota yang terhimpun di dalam APTIK menerima mahasiswa tanpa mamandang suku, agama, dan latar belakang. Kerja sama antar perguruan tinggi APTIK juga dilakukan dalam berbagai bidang yakni di bidang pembelajaran, penelitian, pemberdayaan masyarakat, komitmen ekologi dan lingkungan, pelayanan mahasiswa melalui kampus ministry, dan pengembangan platform digital pembelajaran.







Tinggalkan Balasan