Pemprov NTT menyoroti hasil pemetaan kemampuan akademik yang menunjukkan posisi NTT masih berada di kelompok bawah secara nasional. Kondisi ini menjadi alarm untuk memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah, termasuk kompetensi guru dan sarana pendidikan.
Di tengah polemik tersebut, Pemprov NTT juga mendorong penguatan pendidikan berbasis keluarga melalui kebijakan “jam belajar masyarakat”.
Dalam program yang disosialisasikan di Manggarai Timur, keluarga diharapkan menyediakan waktu khusus pukul 18.00–19.30 WITA untuk mendampingi anak belajar di rumah.
Selain itu, pemerintah juga meluncurkan program penguatan ekonomi lokal melalui NTT Mart berbasis One School One Product (OSOP). Program ini bertujuan menghubungkan pendidikan dengan kewirausahaan agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya cipta dan keterampilan ekonomi sejak dini.
Bagi Pemprov, polemik seleksi Akpol ini menjadi cermin ganda. Yakni antara kebutuhan memastikan transparansi rekrutmen aparatur negara dan tantangan besar meningkatkan kualitas pendidikan di NTT agar mampu bersaing secara nasional. (*/llt/ab)







Tinggalkan Balasan