“Di Kota Kupang, keberagaman bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan. Keberagaman bukan menjadi jarak pemisah, tetapi menjadi jembatan. Dan kita semua selalu bisa hidup dalam sebuah harmoni,” tutur dr. Christian.
Ia menganalogikan harmoni di Kota Kupang seperti kain tenun khas NTT. Keindahan kain tersebut lahir dari perpaduan corak dan warna yang berbeda yang dirangkai secara proporsional. Terlebih, Pancasila memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan bumi NTT, tempat Bung Karno merenungkan butir-butir dasar negara di Ende. Oleh karena itu, ia meminta warga tidak sekadar menghafal Pancasila, melainkan mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari.
Momentum ini juga dimanfaatkan Wali Kota untuk mengajak masyarakat bersyukur atas hari jadi Kota Kupang yang ke-140 serta peringatan 30 tahun sebagai kota otonom. Ia mengapresiasi sinergi dari TNI, Polri, ASN, dan seluruh warga dalam menjaga stabilitas daerah.
Terkait birokrasi, dr. Christian menginstruksikan seluruh jajaran perangkat daerah untuk mempercepat penanganan disposisi dan aspirasi warga demi pelayanan publik yang responsif. Ia mengingatkan bahwa fondasi terpenting sebuah daerah adalah ikatan emosional dan persaudaraan masyarakatnya.





Tinggalkan Balasan