Lebih lanjut, Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa sektor pendidikan di NTT masih menghadapi dampak fenomena learning loss dan learning poverty. Meski demikian, upaya perbaikan yang dilakukan secara komprehensif mulai menunjukkan hasil positif.

“Meski belum sepenuhnya sesuai harapan maksimal, indikator pendidikan mulai menunjukkan tren yang membaik,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak membandingkan sistem pendidikan Indonesia secara langsung dengan negara lain yang telah lebih dahulu memiliki infrastruktur pendidikan yang lengkap.

“Setiap negara memiliki titik awal dan tantangannya masing-masing dalam menghasilkan pendidikan yang berkualitas,” tambahnya.

Solusi Akses: Starlink dan Listrik untuk Daerah Terpencil

Menanggapi ketimpangan akses pendidikan, khususnya di wilayah yang belum terjangkau jaringan internet dan listrik, Abdul Mu’ti menyampaikan rencana koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

Untuk wilayah tanpa akses internet, pemerintah akan memfasilitasi penggunaan jaringan satelit seperti Starlink. Sementara untuk daerah yang belum memiliki listrik, pemerintah akan bekerja sama dengan PLN untuk pembangunan jaringan.