“Iman tidak hanya hadir dalam doa, tetapi juga dalam perbuatan, persaudaraan, dan solidaritas. Apa yang dilakukan PHDI, dari donor darah, berbagi takjil, hingga pawai ogoh-ogoh, adalah wujud nyata dari iman yang hidup dalam tindakan,” ujarnya.

Mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju,” Wali Kota menekankan makna penting dari kata harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. “Harmoni itu bukan berarti sama, tetapi seimbang. Kita tidak perlu menyeragamkan semua orang, tetapi bagaimana perbedaan itu bisa berpadu menjadi keindahan, seperti nada dalam lagu dan warna dalam lukisan,” jelasnya.

Ia menggambarkan Kota Kupang sebagai sebuah kanvas besar, di mana seluruh masyarakat adalah warna-warni yang membentuk lukisan indah bernama toleransi dan inklusivitas. Prestasi Kota Kupang yang masuk 10 besar Indeks Kota Toleran serta penghargaan sebagai Kota Damai dan Inklusif menjadi bukti nyata komitmen tersebut.

Lebih lanjut, Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk memaknai ogoh-ogoh tidak sekadar sebagai karya seni, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap sifat-sifat buruk dalam diri manusia. “Ogo-ogoh adalah lambang amarah, keserakahan, ego, dan kebencian. Hari ini kita tidak hanya menyaksikan pawai, tetapi juga keberanian untuk mengakui dan memusnahkan sifat-sifat buruk dalam diri kita,” tegasnya.