Lebih lanjut, Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk memaknai ogoh-ogoh tidak sekadar sebagai karya seni, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap sifat-sifat buruk dalam diri manusia. “Ogo-ogoh adalah lambang amarah, keserakahan, ego, dan kebencian. Hari ini kita tidak hanya menyaksikan pawai, tetapi juga keberanian untuk mengakui dan memusnahkan sifat-sifat buruk dalam diri kita,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kemenangan sejati bukanlah tentang tidak pernah salah, melainkan keberanian untuk menyadari kesalahan dan memperbaikinya.
Selain itu, Wali Kota juga menyoroti makna keheningan dalam perayaan Nyepi yang akan dijalani umat Hindu. Menurutnya, keheningan adalah ruang refleksi yang penting dalam kehidupan. “Kalau hidup kita tidak pernah berhenti, tidak pernah memberi jeda, kita bisa ‘hang’ seperti handphone yang tidak pernah dimatikan. Keheningan itu penting agar hidup kita kembali bermakna,” ungkapnya dengan analogi sederhana yang disambut antusias hadirin.
Sementara itu, Wakil Ketua II PHDI Kota Kupang, I Gusti Ngurah Suarnawa, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Nyepi diawali dengan upacara Tawur Kesanga yang bertujuan menyucikan alam dan diri manusia serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ia juga menegaskan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan simbol pembersihan diri dari sifat-sifat negatif seperti marah, iri, dan dengki, sebelum umat Hindu memasuki Catur Brata Penyepian selama 24 jam.
Ketua Panitia, I Wayan Gede Astawa, dalam laporannya menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan Nyepi tahun ini meliputi donor darah, berbagi takjil dan buka puasa bersama, upacara Melasti, hingga puncaknya Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh yang menampilkan empat ogoh-ogoh.
Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Pemerintah Kota Kupang, aparat keamanan, organisasi keagamaan, serta partisipasi aktif umat Hindu dan masyarakat lintas agama. (ans/ab)







Tinggalkan Balasan