Tedy pun membantah tuduhan seperti diberitakan sejumlah media, bahwa konflik itu bermula dari warga Narasaosina yang menyerang.

“Media tidak benar menulis. Warga Bele yang duluan menyerang. Kalau cerita soal Ari sebagai pemicu, itu bohong. Ari itu potong dan bersihkan pisang miliknya dan dia tidak provokasi. Justru dia abaikan orang Bele yang berusaha provokasi dia. Kita masih hargai kalau mereka sedang berpuasa,” jelas Tedy.

Selain itu, sejumlah warga Narasaosina menyesalkan kesigapan aparat keamanan di Adonara Timur saat konflik terjadi. Pihak kepolisian lamban datang ke lokasi kejadian, bahkan menonton saat kejadian berlangsung.

“Polisi sudah dihubungi tapi telat datang beberapa jam. Mereka datang pun hanya menonton,” kata beberapa warga Narasaosina yang ditemui.

Dari data yang direkam, konflik tersebut mulanya dipicu oleh perseteruan terkait lokasi rencana pembangunan gedung Kopdes Merah Putih di lokasi tanah ulayat Desa Narasaosina. Jauh sebelum pecah konflik, Bupati Flores Timur telah menemui warga Narasaosina. Dan lahirnya kesepakatan untuk menyelesaikan hal itu dengan damaiantara pihak berseteru. Namun, mediasi tak kunjung dilakukan hingga konflik memuncak.