Akibatnya, meski kaya sumber daya, NTT masih menghadapi defisit perdagangan, masyarakat lebih banyak membelanjakan uangnya untuk produk dari luar daerah.
NTT Mart hadir untuk memotong ketimpangan itu.
Di Malaka, kebijakan ini menemukan konteks yang kuat. Gubernur Melki mengingatkan kembali keterkaitan historis wilayah ini dengan Maluku dan Papua.
Kain tenun Timor, termasuk dari Malaka, bahkan menjadi salah satu alat mas kawin paling bernilai di Papua Barat dan Papua Barat Daya, penanda kuatnya jejak pergerakan dan pertukaran budaya orang Timor sejak masa lampau.
“Ini bukti bahwa Malaka sejak dulu terhubung dengan jejaring ekonomi dan budaya yang luas,” katanya.
Tak hanya budaya, Malaka juga menyimpan kekayaan pengetahuan lokal, mulai dari pengobatan tradisional yang telah dibukukan hingga potensi pertanian yang subur di Pulau Timor. Tantangannya kini adalah bagaimana semua potensi itu bisa bergerak keluar, bersaing, dan bernilai tambah.
Karena itu, penguatan infrastruktur logistik menjadi perhatian penting. Gubernur Melki menyinggung rencana pengembangan dermaga di wilayah pesisir Malaka untuk menekan biaya distribusi.





Tinggalkan Balasan