“Sayangnya, kita masih kalah cepat dalam menyambut dana dari pusat. Ke depan, HIPMI harus bisa lebih gesit memanfaatkan peluang program seperti ini,” tambahnya.
Menurut Gubernur Melki, pengusaha daerah punya peluang, untuk terlibat dalam program pembangunan, antara lain sektor pembangunan rumah layak huni, kemandirian energi, dan kemandirian pangan.
Ia juga mengajak HIPMI untuk terjun ke dalam sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kelautan, dan perikanan, di mana sektor pertanian merupakan penyumbang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT.
“Saya berharap HIPMI juga bisa ambil bagian dalam pengembangan garam, energi baru terbarukan (EBT) di Flores, Timor, dan Sumba, termasuk PLTA di Flores Timur. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan bersama,” katanya.
Gubernur Melki juga menyinggung pentingnya penguatan produk lokal, melalui program One Village One Product (OVOP), One Community One Product (OCOP), dan One School One Product (OSOP). Hal ini, menurutnya, jika dijalankan dengan baik, maka bisa menekan defisit perdagangan di NTT dan di luar NTT.
“Kalau teman-teman HIPMI bisa memproduksi air mineral lokal saja, potensi ekonominya bisa mencapai Rp200 sampai Rp250 miliar per tahun. Bahkan, sekitar Rp700 miliar per tahun kita keluarkan, hanya untuk membeli pinang dari luar NTT. Sebenarnya saat ini banyak peluang untuk membuka usaha baru di NTT,” ujarnya.



Tinggalkan Balasan